Text
Tingkat Kemandirian, Kualitas Hidup dan Insiden Komplikasi pada Pasien "Spinal Cord Injury" Akibat Gempa Bumi di Yogyakarta dan Klaten
Gempa bumi hebat yang terjadi pada hari Sabtu tanggal 27 Mei 2006 di daerah Yogyakarta dan Klaten ternyata menyiakan masalah yang berkepanjangan sampai sekarang pada korban-korbannya yang mengalamiparaplegia (kelumpuhan) kedua tungkai akibat cedera pada medulla spinalis(spinal cord injury). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemandirian, kualitas hidup dan komplikasi yang dialami penyandang peraplegia dan mengetahui hubungan antara berbagai karakteristik penyandang paraplegia dengan tingkat kemandirian, kualitas hidup dan insiden komplikasi. Jenis penelitian adalah observasional atau descriptive analysis. Jumlah subyek penelitian n-54 penyandang paraplegia terdiri 30 laki-laki dan 24 wanita. Pada analisis deskriptif didapatkan data bahwa insiden komplikasi pada saluran kencing 42.59%, dekubitas 92,59% dan komplikasi saluran pernapasan 0%. Tingkat kemandirian yang diukur dengan indek Barthel memiliki rata – rata 78,15 (normal 100) atau ketergantungan ringan (mild dependemcy), Kualitas hidup memiliki nilai rata-rata 28.56 (normal 42) atau kategori agak memuaskan (rather satisfied). Pada analisis korelasi hanya didapatkan hubungan yang tidak terlalu kuat (r=0,497 dengan p=0.000) antara derajat berat paralegia dengan tingkat kemandirian dan derajad paraplegia dengan kualitas hidup (r=0,421 dengan p=0,002)Pada penderita paraplegia berpotensi paling besar terjadi komplikasi berupa dekubitas diusul dengan komplikasi pada saluran kening. Dimana semakin berat kelumpuhannya maka semakin tergantung aktivitasnya dan semakin tidak memuaskan kualitas hidupnya. Sehingga program tindak lanjut dari institusi kesehatan dan pemerintah tetap diperlukan.
.
Tidak tersedia versi lain