Text
Pengobatan Malaria Falciparum dengan Artemeter di RSUD 1. A Moeis Samarinda
Malaria masih menjadi penyebab kesakitan dan kematian pada anak dan oarang dewasa di kawasan tropis seperti Indonesia, khususnya Kalimantan Timur Saat ini telah ditetapkan pedoman penatalaksanaan Malaria yenag baru dari Depkes RI dan WHO. Salah satu pengobatan terkini untuk kasus malaria falciparum adalah penggunaan golongan artemisin, baik oral maupun injeksi (termasuk artemeteri). Penelitian ini bertujuan memberikan gambaran mengenai pengobatan malaria falciparum dengan artemeter di RSUD 1 A Moeis Samarinda, Kalimantan Timur. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan pendekatan cross sectional. Data diambil dari rekam medik penderita malaria faciparum yang rirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUD 1A Moeis Samarainda dari Januari 2008 sampai akhir januari 2009. Dari 36 orang penderita malaria faciparum yang mendapat terapi artemeter, masih terdapat 6 (16.67%) orang dengan plasmodium falciparum positif (PF+) pada pemeriksaan mikroskopis ulang. Karakteristik klinis laboratorium keenam penderita itu berupa anemia (66,66%), ikterus (66,66%), trombositopenia (66,66%), leukemia (50%); 83,33% pasien memiliki kepadatan parasit ++ atau lebih, dari 66,^^% pasien memiliki lebih dari 1 karakteristik tersebut. Karakteristik tersebut disinyalir mempengaruhi kerja artemeter sehingga menyebabakan kegagalan pengobatan atau berulangnya ksus malaria falciparum. Namun, hal ini masih memerlukan penelitian lebih lanjut.
Tidak tersedia versi lain